Dulu, sekitar tahun 80 sampai 90-an, tetangga-tetangga saya banyak yang memelihara sapi. Ada yang diternak, ada juga yang mereka gunakan untuk menyalurkan hobi, kalau yang jantan untuk lomba pacuan sapi atau kerrap, kalau yang betina untuk sapi Sono'. Kebetulan di daerah saya, Waru, sapinya memang terkenal bagus-bagus. Bukan promosi lho! Ini juga kata orang-orang luar. Sampai saat ini saya juga kurang begitu mengerti, seperti apa sih tipe sapi yang bagus dan buruk itu. Oleh karenanya, tiap pasaran, hari Kamis dan hari Ahad, pasar banyak diramaikan oleh penjual dan pembeli sapi.
Kembali ke masalah tetangga-tetanggaku yang juga memlihara sapi, khususnya sapi kerapan. Biasanya tiap hari Senin sering diadakan trenan (latihan). Banyak profesi yang berkembang dari memelihara sapi kerapan ini, mulai jadi tukang tongkok (joki) sampai tukang candek (penangkap sapi) di garis finis. Para musikus kelompok gamelan khas Madura, yang biasa dikenal Saronen, juga marak. begitu juga dengan para pengrajin pembuat Kleles, juga turut andil meramaikan habi yang satu ini. Ya... hidup terasa begitu hidup.
Pada waktu perlombaan digelar, yang biasa bertepatan dengan masa panen raya, musik pengiring Saronen bergema di mana-mana, dengan mengendarai truk mereka mengajak masyarakat untuk keluar rumah, dan bersama-sama merayakan panen dengan kerapan sapi. Semua ikut merayakan, tersenyum dan bergembira.
Ya! itu dulu. Sekarang, tidak ada lagi tetanggaku yang memelihara sapi. Jangankan sapi kerapan, sapi biasapun jarang. Kegiatan perlombaan kerapan sapi tetap berjalan tiap tahun. Tapi saya tidak lagi dapat melihat para tetangga ikut lomba. Saya tidak tahu lagi peserta lomba itu sapi siapa, karena semua peserta banyak dari daerah lain. Peran yang bisa dimainkan tetangga-tetangga saya itu paling hanya sebagai pemeriah. Bukan lagi tokoh utama. Jadi penonton, atau jadi tukang candek, paling top jadi tungkang tongkok.
Untuk punya dan memelihara sapi kerapan seperti saat-saat sekarang ini, sebenarnya hanya butuh satu syarat, yaitu kaya. Bayangkan saja, untuk biaya perawatan sapi kerapan, anda harus siap kehilangan uang sebesar 100 ribu perhari, ya kira-kira segitu lah!
Orang Madura tidak sembarangan memelihara sapi kerapan. Setiap pagi dan sore, sapi dimandikan secara rutin dengan menggunakan air bersih, dan dimandikan sambil di urut-urut oleh seorang yang memiliki keahliah khusus tentang otot-otot sapi. Tidak seperti dulu-dulu, yang cukup dimandikan dikali, kadang airnya juga berwarna kecoklat-coklatan. Dan hanya sekedar untuk menghilangkan virus yang kemungkinan ada di tubuh sapi.
Makanan sapi kerapan, juga perlu mendapat perhatian agar kondisi sapi tetap vit dan siap bertanding. Rumput yang dimakan adalah rumput pilihan yang khusus ditanam untuk sang sapi. Setiap hari, sapi kerapan harus diberi minuman jamu, dan beberapa telur ayam. Yang sekali minum biasanya tidak kurang dari 25 telur untuk tiap ekor sapi. Sapi juga diberi minuman bir atau minuman energi lain, dan biasanya menghabis satu sampai dua liter perhari. Minuman lain yang biasa dikonsumsi, seperti susu segar dan madu juga menjadi suguhan sapi kerapan.
Dan gilanya lagi, kandang dimana sapi ditempatkan, kadang lebih bagus dari rumah penduduk disekitarnya. Maklum orang kaya, sapinyapun harus hidup mewah :D. Saking besarnya biaya yang perlu dikeluarkan untuk perawatan sapi kerapan, sampai-sampai ada ungkapan “biaya merawat seeokor sapi kerapan lebih besar daripada biaya merawat seorang isteri”.
Memelihara, sapi kerapan sudah tidak sesederhana dulu lagi. Dengan pengeluaran yang demikian besar, tentu saja tidak semua orang bisa memelihara sapi kerapan. Ditambah lagi krisis moneter yang terus melilit Indonesia, menambah kehidupan masyarakat semakin terkatung-katung. Jangankan untuk memelihara sapi kerapan, memelihara diri mereka sendiri sudah begitu sulit.
Orang-orang kaya yang memlihara sapi kerapan, mereka bukan hanya sekedar untuk menyalurkan hoby. Tapi lebih dari itu, sapi kerapan mereka jadikan sebagai lambang dan tanda kekayaan, dan kedudukan sosial di mata masyarakat. Adu gengsi sudah menjadi tren siapa yang memiliki sapi kerapan, apalagi sapi itu sering menjadi juara. Dengan itu sosoknya akan terangkat di tengah masyarakat.
Orang Madura yang mayoritas beragama Islam, dan terkenal dengan kehidupan yang agamis, melihat kerapan sapi sebagai sesuatu yang melanggar agama. Karena disitu terkandung unsur penyiksaan terhadap hewan. Mungkin perlu juga saya tulis, bahwa ketika lomba, tokang tongkok atau joki memacu sapi kerapan dengan menggunakan tongkat khusus dimana terdapat paku-paku kecil yang menempel pada tongkat. Maka wajar kalau sapi-sapi itu berdarah-darah pada bagian pantatnya setelah mengikuti perlombaan.
Hal inilah yang membuat para Kiyai menjauhi kerapan sapi. Sehingga tradisi yang sudah menjadi ciri khas Madura ini juga dijauhi masyarakat. Sedangkan mereka yang punya sapi kerapan, meskipun disatu sisi mereka mempunyai nilai lebih dan terpandang di masyarakat. Tapi di sisi lain, mereka juga mendapat pandangan negatif, sebagai penyiksa hewan.
Kerapan sapi adalah tradisi orang Madura yang perlu dilestarikan. Orang bule biasa bilang Bull reces sudah cukup terkenal, dan bisa dijadikan salah satu daya tarik wisata. Oeh karenanya, kalau kerapan sapi tambah dijauhi oleh masyarakat, bisa mengakibatkan tradisi ini punah.
Ada dua alasan mengapa orang mulai menjauhi, dan mungkin bisa menjadi akhir dari kerapan sapi. Pertama, larangan agama untuk tidak menyiksa hewan. Kedua, berkenaan dengan biaya perawatan yang tidak semua orang mampu mengurusnya.
Sebagai usul asal-asalan, mungkin perlu adanya islamisasi terhadap kerapan sapi. Dengan menghilangkan unsur-unsur yang bertentangan dengan Islam, seperti penyiksaan terhadap sapi kerapan. Sehingga nantinya para kiyaipun bisa menyemarakkan kerapan sapi. Tapi mungkin kalau kiayi sudah mulai senang kerapan sapi, bisa-bisa nanti dia lupa sama santrinya :D.
10th District
kirim ke teman | versi cetak