Hampir setiap tahun penetapan 1 Syawal di Indonesia diwarnai dengan adu pendapat. Ya, saya bilang adu pendapat, bukannya beda pendapat. Karena berbeda pendapat dalam Islam adalah rahmat, karena itu tidak akan menimbulkan perpecahan dalam umat Islam. Tidak sama dengan adu pendapat, yang berusaha membentur-benturkan satu pendapat dengan pendapat yang lainnya.
Di Indonesia 1 Syawal, bisa terjadi sampai jadi 2 sampai tiga hari. orang Indonesia sudah lama terlatih menyikapi adu pendapat menyambut 1 Syawal dengan sukacita. Tapi sayangnya, seakan-akan ada yang kurang, dan ada yang mengganjal waktu melaksanakannya. Benarkah, 1 Syawal telah tiba? Jangankan beda propinsi, dengan tetangga rumahpun kita berbeda.
Indonesia sudah muak dengan status quo, yang dilambangkan dengan penyeragaman. Akhirnya dicarilah hal-hal yang berbeda, atau bahkan dicari-carikan, demi untuk mengajari orang untuk berbeda pendapat.
Di keluarkanlah jargon-jargon untuk menghargai pendapat orang lain, kebebasan berpikir dan menghargai perbedaan. Karena getolnya iklan ini, seakan-akan persamaan adalah hal yang haram hukumnya. Hal yang sama adalah hal yang kampungan dan perlu ditertawakan.
Ya begitulah, akhirnya 1 Syawal terjadi berkali-kali demi menghargai perbedaan. Setiap instansi atau golongan punya hak untuk mengeluarkan pendapat dan fatwa. Pemerintah mengeluarkan itsbat 1 Syawal, yang lain juga menetapkan 1 Syawal.
Kita perlu bertanya, Apakah kita harus berbeda? Apakah semua yang seragam itu status quo, dan perlu dimusnahkan!
Dikisahkan dalam sejarah, bahwa pada suatu ketika Ali bin Abi Thalib yang waktu itu menjabat sebagai Khalifah, menuntut seorang Yahudi yang telah mengambil pedangnya. Maka didudukkanlah mereka berdua dalam persidangan. Karena lemahnya dalil yang dikemukakan Ali maka kalahlah Ali dalam sidang tersebut.
Ali yang mempunyai kekuasaan dan pengaruh besar, bisa saja ia mengeluarkan keputusan tandingan, atau bahkan menuntut hakim yang membuatnya kalah dalam persidangan. Tapi Ali tidak, ia menghargai institusi dan apa yang telah dihasilkan oleh sidang, ia menerima putusan tersebut.
Ya begitulah orang bijak bersikap. Di Indonesia lain lagi. Pemerintah sudah mengeluarkan itsbat 1 Syawal yang hal itu diputuskan berdasarkan hasil rapat yang diikuti oleh berbagaimacam ormas yang ada. Tapi sayang, keputusan itupun tidak ada gunanya. Karena setelah pulang utusan tersebut bukannya memberitahukan hasil rapat, tapi menyatakan perbedaan pendapatnya.
Lebaran tetap menjadi hari yang indah untuk dirayakan, akan tetapi sepertinya akan lebih indah kalau kita merayakannya bersama-sama.
Sepertinya, dalam penetapan 1 Syawal, hanya Indonesialah yang paling heboh dan ramai, karena unsur politik, adu pengaruh, adu kekuatan masa, dan sebagainya. Yang ujung-ujungnya berdalih, kebebasan berpendapat dan menghargai pendapat orang lain. Saya kadang berpikir, apakah orang Islam masih belum mampu untuk menaruh radar atau apapun kek bulan, biar kita tahu sampai dimana bulan berada.
Ya, perbedaan adalah rahmah, tapi tidak semua perbedaan, dan perbedaan itu tidak harus ada dalam setiap hal. Dalam hal puasa, kalau saja perbedaan-perbedaan itu harus ada, maka banyaklah cara orang berpuasa yang perlu kita hargai. Ya berpuasa tanpa shalat, berpuasa tapi kalau minum saja tidak apa-apa, atau boleh makan asal tidak minum, makan asal makanan tidak sampai mengenyangkan... dan terus seperti itu. Hal-hal itu juga adalah perbedaan. Lho kok :D
kirim ke teman | versi cetak