![]() | ![]() | |
Sir Salman Rushdie
Rabu, 31 Desember 1969 18:00:00 - oleh : admin
Secara mengejutkan kemarin (16/6/07) Salman Rushdie mendapat gelar Knighthood (kesatriaan) dan berhak menambahkan "Sir" di depan namanya. Gelar ini diberikan dalam acara Queen Brithday Honor. Banyak pertanyaan yang terlintas atas kejadian ini, tentang alasan diberikannya gelar kepada Salman Rushdie dan juga kelayakan seorang Salman Rushdie menyandang gelar ini. Kerajaan Inggris berdalih bahwa Diberikannya gelar ini, banyak menimbulkan tandatanya dari dalam negeri inggris sendiri. Karena selain Rushdie bukan orang Inggris, juga sebenarnya masih banyak orang lain yang lebih berhak untuk mendapatkan gelar ini, terutama dari orang Inggris sendiri. Mengapa harus Salman Rushdie! Sementara itu, dari negara-negara Islam, tentu saja hal ini menimbulkan kemarahan yang luar biasa. Salman Rushdie melalui novelnya "Satanic Verses" (Ayat-ayat Setan)(1989)yang menghina Alquran dan Nabi Muhammad, menimbulakan kemarahan orang-orang Islam, sehingga membuatnya mendapatkan fatwa mati dari pemerintahan Iran dan juga diberbagai negara Islam lainnya. Dengar diberikannya gelar ini, setelah berlalunya fatwa ini kurang lebih 19 tahun, tentu saja kembali menyulut luka yang mungkin sudah hampir kering di hati orang-orang Islam. Seakan-akan mengingatkan orang muslim bahwa Salman Rushdie memang pantas dibunuh. Diantara respon terhadap pemberian gelar pada Rushdie, The Organisation To Commemorate The Martyrs Of The Muslim World (OCMMW) Iran menyediakan hadiah 80.000 poundsterling (sekitar Rp 1,3 miliar) bagi siapa yang berhasil menghabisi Salman Rushdie. Forouz Raja'ee-Far, Sekjen OCMMW mengatakan, bahwa hadiah 100.000 dolar AS (Rp 900 juta) yang pernah ditawarkan Khomeini terlalu kecil. “Sekarang kami menaikkan nilai hadiahnya menjadi 150.000 dolar AS (Rp 1,3 miliar),” kata Forouz kepada kantor berita Iran, Fars. Tidak kalah dengan Iran, Di Pakistan, Perhimpunan Niagawan Islamabad (ITA) menyediakan hadiah 165.000 dolar AS (Rp 1,4 miliar) bagi siapa yang berhasil membunuh Salman. Selain itu, masih di Pakistan, Dewan Ulama Pakistan (PUC) memberi Osama ben Laden gelar "Saifullah" yang dianggap gelar tertinggi bagi pejuang Islam. Sebenarnya buku Satanic Verses bukanlah satu-satunya buku Rushdie yang memusuhi agama. Akan tetapi sebelum-sebelumnya, Rushdie juga sudah mengarang buku yang isinya banyak menghina agama masyarakat setempat. Buku Grimus (1975), yang isinya menghina keyakinan orang-orang India; buku Shame (1983), juga menghina keyakinan orang-orang India; buku Midnight’s Children (1981) ditulis untuk mengkritik perjuangan rakyat India untuk mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris; buku The Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey (1987) terkait dengan situasi politik di Nikaragua dan keyakinan masyarakatnya. Dari buku-buku ini kita bisa tahu bahwa Rushdie adalah seorang yang anti agama. Saya kira dalam kehidupan bermasyarakat, bukan suatu masalah kalau seseorang tidak mempercayai agama. Akan tetapi menjadi suatu masalah besar kalau orang tersebut anti agama atau memusuhi agama. Begitu juga ketika orang-orang Kristen tidak percaya bahwa Alquran itu adalah wahyu dari Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah rasul dan nabi terakhit, itu tidak menjadi masalah. Sebagaimana kalau orang Islam juga tidak percaya bahwa Nabi Isa adalah tuhan yang patut di sembah dan bahwa Injil-injil yang tersebar di dunia sekarang sudah tidak murni lagi. Yang menjadi masalah adalah ketika ada orang yang mengatakan bahwa Alquran itu, tidak lain hanyalah ayat-ayat setan, seperti yang di sebut oleh Rushdie. Atau juga ketika Nabi Muhammad disebut-sebut sebagai teroris, pembunuh berdarah dingin, dan lelaki berlibido tinggi, sebagaimana terjadi di Denmark, dalam perlombaan kartun Nabi Muhammad. Pemberian gelar "Sir" kepada Rushdie, meskipun tidak di katakan secara terus terang oleh pihak Inggris, akan tetapi itu menunjukkan apa yang biasa dikenal dengan islampobia orang Barat terhadap Islam. Kalau kita sangkut pautkan dengan kejadian di Denmark, kejadian ini adalah salah satu rentetan bentuk kebencian Barat terhadap Islam. Kita tunggu saja, apalagi yang akan dilakukan Barat untuk mengganggu emosi orang Muslim. Orang Barat, di mata umum terlihat ramah dan bersahabat, tapi dalam hati mereka masih tersimpan kebencian diakibatkan rasa takut dan rasa ngeri terhadap umat lain, utamanya Islam. Persamaan derajat, kemanusiaan yang selalu didengung-dengungkan oleh Barat adalah suatu idealisme yang mungkin sampai saat ini masih belum mereka miliki. Itu dapat kita lihat bagaimana Barat menerapkan standar ganda dalam kemanusiaan, dalam kebebasan berpikir dan dalam banyak hal. Superioritas mereka terhadap ras lain masih menghantui otak mereka secara tidak sadar. Orang kaya, senantiasa terlihat lebih ramah dari pada orang miskin. Karena dia bisa bersembunyi dibalik pakaian yang rapi, rumah yang megah dan kendaraan yang tren. Meskipun sebenarnya dia akan melakukan apa saja untuk memelihara dan menjaga kekayaannya, termasuk memeras dengan sadis keringat orang miskin. Kita harus berbangga diri, bahwa dalam hal toleransi, menurut saya kita bisa dibilang lebih maju dari Barat. Barat baru belajar untuk hidup berdampingan secara damai dengan suku, ras, agama lain. Yang sebelumnya mereka anggap sebagai budak dan mereka merasa lebih super dari yang lainnya. Sedangkan kita, sejak jaman dahulu sudah terbiasa dengan hidup dibawah naungan Bineka Tunggal Ika. Berita "Catatan" Lainnya | ||
![]() | ![]() | |
Visitors :39996 Org
Hits : 115736 hits
Month : 395 Users


